Home » » Lubang Gelombang Ketiga

Lubang Gelombang Ketiga

Dipublikasikan Oleh Mawardi Ardi pada Jumat, 14 Maret 2014 | 14.04

banner yusuf2 Lubang Gelombang Ketiga
“GELOMBANG Ketiga”. Frase yang belakangan ini banyak hadir di ruang publik. Sebuah gagasan yang berangkat dari pembacaan sejarah Indonesia a la Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Anis Matta.
“Gelombang” di sini sesungguhnya sejajar dengan kata lain semisal fase, periode, babak, atau tahap. Menjadi bernas dan berenergi ketika Anis memilih diksi “gelombang” ketimbang kata yang lain. Momentum pemilihan umum, baik legislatif maupun presiden, tampaknya dijadikan pijakan untuk menggerakkan kesadaran kader partainya hingga publik akan pentingnya wacana yang krusial lagi menggugah.
Meski dilabeli frase baru, pembagian tiga waktu dalam perjalanan sejarah negeri ini bukan barang baru. Periode awal adalah impian Indonesia merdeka, yang kemudian dilanjutkan dengan (setelah merdeka) Indonesia modern. Saat ini, menurut Anis, adalah momentum menciptakan kesejarahan berbeda dari dua episode sebelumnya. Determinasi teknologi informasi berandil terhadap pembentukan konfigurasi di tubuh pemerintahan dan publik. Termasuk relasi antara penguasa dan yang dipimpin yang flat.
Sebagai penikmat sejarah, pembacaan dan refleksi Anis sungguh menawan. Ditambah retorika di hadapan kader dan publik, wacana Gelombang Ketiga seperti menawarkan oase di tengah gurun kepemimpinan alternatif di tanah air. Mengabaikan kalangan yang biasa apriori atau sinis pada ide apa pun yang berasal PKS, Gelombang Ketiga memiliki niatan baik untuk menyadarkan rakyat Indonesia—dan khususnya umat Islam—akan posisinya.
Menariknya, pembacaan sejarah Anis bukan untuk meromantisasi kejayaan. Bukan pula demi menghadirkan apologi untuk membesar-besarkan diri. Tampaknya, fakta-fakta kebesaran dan kekurangan masa lalu politik Islam dicukupkan pada gagasan visi hari esok. Anis lebih ingin menoleh masa depan gemilang ketimbang kejayaan hari kemarin.
Sejenak saya cukupkan apresiasi atas Gelombang Ketiga. Saya tiba-tiba ingat petuah Anis dalam Menikmati Demokrasi, khususnya pada tulisan “Pikiran Dibalik Pikiran”. Membaca pikiran di balik pikiran, menurut Anis Matta, adalah “sebuah seni tersendiri, khususnya dalam dunia pergerakan dakwah dan politik.”
“Biasanya,” lanjut Anis, “ini menyangkut motif yang ada di balik sebuah pikiran yang diajukan untuk kita pikirkan. Sehingga, yang selalu harus kita ajukan dalam membaca pikiran-pikiran tersebut adalah: mengapa mereka menginginkan kita berpikir seperti itu?”
Mari kita perlakukan petuah Anis tersebut terkait wacana Gelombang Ketiga. Senyampang itu, saya masih tergelitik mengapa kader PKS banyak yang biasa-biasa bicara sejarah. Atau kala membicarakan Keindonesiaan tampak masih belum alamiah; semuanya masih terkesan politis meraup suara. Kalaupun ada yang sibuk mengkaji sejarah untuk pergerakan dakwah PKS, saya tidak yakin ini sudah menjadi bagian dari kesadaran diri kolektif.
Pearl Harbor
Kendati berorientasi kuat pada keumatan, bias politis kelompok bukannya nihil. Menarik untuk disigi penggunaan diksi “Gelombang Ketiga”. Apakah frase ini jatuh dari langit begitu saja manakala Anis merenung? Atau, ia hadir dari sintesis pelbagai gagasan yang dibaca Anis?
Saya tidak sengaja mendapati frase yang kebetulan sama persis saat menonton Pearl Harbor (2001), garapan Michael Bay. Seperti judulnya, film ini berkisah tentang penyerbuan Jepang ke pangkalan Angkatan Laut Amerika Serikat di Hawaii. Saat sepasukan pilot kamikaze Jepang menghujani tanpa ampun pangkalan AS, salah satu komandan Jepang memotivasi keras-keras dengan kata-kata “ciptakan Gelombang Ketiga!”
Ya, saya menafsiri Gelombang Ketiga pada kata-kata komandan Jepang itu adalah sebuah serangan maksimal dari kekuatan minoritas dan teremehkan terhadap sebuah kekuatan besar yang selama ini dipandang tidak terkalahkan. Tidak ada pilihan lain selain pulang dengan kabar kematian dan kemenangan. Tidak ada jalan untuk berpaling dari medan pertempuran. Mati atau bunuh diri dengan marwah mulia!
Apa relevansinya dengan Anis dan PKS? Saya menangkap nuansa momentum peluncuran wacana Gelombang Ketiga tidak lain dari pemaksimalan kekuatan politik PKS di tengah badai yang menerpanya, khususnya, selama tiga tahun terakhir ini. Dicaci, dihina, diremehkan kekuatannya, menjadikan partai yang dipimpin Anis bak Jepang dalam prolog Perang Dunia II. Harus ada manuver untuk membuktikan bahwa mereka bisa menggulung kekuatan yang selama ini dianggap oleh banyak pengamat sebagai pemain besar dan tidak terkalahkan. Maka, sebagaimana komandan Jepang dalam Pearl Harbor, Anis ingin kader dan pendukung PKS “menghantam” kekuatan yang selama ini dianggap pemain besar yang sukar ditaklukkan. Tidak ada pilihan laim selain kamikaze!
Andai ada motif menyejajarkan diri dengan bushido Jepang, Gelombang Ketiga Anis mestilah memenuhi prasayarat awal. Segi peradaban, khususnya kesejarahan nasional, sudah dikuasai oleh para pasukannya. Pasukan Jepang bisa nekad karena ada kesadaran sejarah yang ditanamkan cukup lama. Hal serupa harusnya diperbuat Anis bila ingin partainya berjaya dengan pendekatan Gelombang Ketiga.
Di lapangan, sungguh sayang, ada jurang menganga antara kesejarahan yang normatif di level kader dan kesejarahan yang visioner dalam diri Anis. Yang satu masih berkutat pada pembacaan ideal Sirah Nabawiyah, yang di atas bergelora memimpikan Indonesia ke depan. Lompatan inilah yang semestinya bisa diisi dengan kesejarahan yang lebih membumi dan berbasiskan pengalama lokal. Pengenalan perjuangan umat selama merebut hingga mengisi kemerdekaan amat pantas diceritakan kepada para kader pengkhidmat Gelombang Ketiga.
Mereka yang terbiasa dengan Sirah Nabawiyah harus mulai akrab dengan tokoh-tokoh bangsa semisal Tjokroaminoto, Agus Salim, Natsir, Wahab Chasbullah, Ki Bagus Hadikusumo, Moh Roem, Hamka, hingga generasi anak didik mereka yang masih hidup sekarang. Pengenalan yang karena tulus, bukan mekanistik karena sekadar impian politis. Pada tokoh-tokoh eks eksponen Masyumi, misalnya, kader Anis bisa dikenalkan arti kezuhudan dan kejujuran. Semuanya bukan dongeng. Jauh melampaui bayangan “bukan di negeri dongeng” karena mereka berada pada posisi atas, kuat, mayoritas, dan mengusai pemerintahan. Bukan sebuah kekuatan politik lokal atau sebatas anggota DPRD.
Pahit dan getir para politisi Muslim membangun identitas keislaman dan kenegarawanan amat layak dikaji para pendukung Gelombang Ketiga Anis. Untuk apa? Agar konteks keindonesiaan berakar kuat. Orientasi keislamannya semakin membumi dan tidak lagi abstrak. Padahal, salah satu “kekurangan” pada gagasan Gelombang Ketiga Anis adalah masih ada kesan malu-malu untuk membahasakan secara apa adanya hingga mudah ditangkap oleh kadernya paling awam sekalipun. Risikonya, lagi-lagi, potensial adanya lompatan pemikiran dan pemahaman sejarah politik nasional di lingkungan kader PKS.
Untuk itu, Gelombang Ketiga mestinya deklarasi kejujuran perjuangan untuk umat dan bangsa dengan logika Indonesia. Tidak ada lagi identitas lain yang membuat Anis dan PKS diprasangkai sebagai perpanjangan kelompok Timur Tengah tertentu. Suatu langkah politik yang sudah dilakukan Masyumi jauh-jauh hari. Kendati lahir dari rahim di luar Ibu Pertiwi, tetap saja PKS adalah Indonesia. Ketika sudah menjadi anak negeri ini, tidak ada pilihan lain kecuali bekerja dengan logika bangsanya. Nah, tugas mengenalkan cinta sejarah dari alif, ba, tsa dan seterusnya di tingkat kader, bisa menjadikan Gelombang Ketiga kuat bukan hanya pada kepentingan politik. Gelombang Ketiga juga kelak bisa kuat ketika Anis atau PKS memimpin negeri ini. Apa pasal? Karena sudah ada dialektika dengan sejarah negerinya.
Sekadar membaca Sirah Nabawiyah untuk penguatan ruhani, ini sudah tepat dan perlu diteruskan. Bagaimana aplikasi di negeri ini? Gelombang Ketiga berikan lubang menganga untuk lakukan itu. Tegasnya, sekali lagi, balik dan bukalah lembaran sejarah perjuangan politik tokoh dan umat Islam selama Republik ini hadir di muka bumi. Cintailah sejarah perjuangan tokoh umat di negeri ini secara tulus, dan bukan karena garis mandat partai. Gelombang Ketiga menjadi tolok ukur cara kader PKS mencintai sejarah sekaligus bangsanya. Apakah tulus atau hanya berdiplomasi demi target politis. []
Sumber : Islampos.com
Share this article :

Kiprah Kader PKS

Arsip lain Kategori ini »

KOLOM OPINI

Arsip lain Kategori ini »

KOLOM INSPIRASI

Arsip lain Kategori ini »

KUMPULAN KULTWEET

Arsip lain Kategori ini »
Published by : PKS Dau ~ Indonesia
Copyright © 2013. PKS Dau ~ Indonesia - All Rights Reserved
Created and Support by A.M.C. Purnama
Proudly powered by Blogger