Home » » Balada Ikhwan Kece

Balada Ikhwan Kece

Dipublikasikan Oleh Mawardi Ardi pada Kamis, 27 Februari 2014 | 08.15




                                                         Penulis: Dewi Purwati



Sejak kepulangan Gani ke kampung halaman, semua orang heboh mencibirnya. Seorang muslim yang gigih dalam menuntut ajaran agama, namun dicap sebagai mahasiswa yang lalai kewajibannya yaitu belajar. Sebenarnya, dia bukan lalai, tapi lebih tetapnya lebih mementingkang dakwah. Bayangkan saja, masuk semester pertama dia diangkat menjadi ketua rohis. Sebuah amanah yang cukup berat bagi seorang pemula, apalagi di semester pertama dia harus berdaptasi dengan lingkungan baru. Seorang anak petani biasa yang gigih memperjuangkan agamanya. Derai air mata penyesalan atas dosanya dimasa lalu tentu menjadi dasar kenapa sekarang dia selalu beristiqomah, menutup mata dari yang tidak halal.
Menginjak semester kedua dia sudah memasuki wahana ruhani tingkat Universitas. Kegigihan dan istiqomah tersebut membuat orang disekitarnya kagum serta menghormati Gani. Pernah suatu ketika seorang gadis memberikan perhatian padanya. Bahkan sempat melmar lewat bapaknya yang kebetulan menjadi pengisi kajian Ahad Dhuha di Masjid Kampus. Semester dua, dia mulai dilirik oleh anak seorang kiyai, tentu bukan hal yang aneh. Gani memang pantas disukai oleh semua wanita. Parasnya tampan, senyumnya manis, berbadan tegap, berkulit kuning langsat ditambah lagi sikapnya yang agamis. Gani menolak dengan alasan dia dia belum cukup mampu membimbing Siti, anaka kiyai tersebut untuk berjalan di jalan-Nya. Hal tersebut tentu membuat hati Siti dan sang kiyai kecewa. Seminggu setelah kejadian tersebut, tepatnya ketika kajian Ahad Dhuha kedua, sang kiyai menolak untuk mengisi acara tersebut. Gani mengerti. Dia mencoba mencari pengganti, namun sampai waktu Isya tiba, dia belum juga menumukan pengisi acara kajian. Dia merenung sesaat. Suara Adzan memanggilnya, seolah merangkul, mengajak, dan memberikan pencerahan untuk Gani.
Dalam deraian air mata dan doa, akhirnya cahaya itu seolah bersinar. Dia memutuskan bahwa dia sendiri yang akan mengisi acara tersebut. Meskipun ilmunya masih terbilang cetek. Sepulang dari Masjid Kampus, dia mencari, mempelajari, dan memperagakan gerakan seorang kiyai. Jarum jam menunjukan pukul 01.00 WIB. Gani mengambil air wudhu, dia kembali berdoa. Setelah itu dia istirahat. Beberapa jam kemudian dia kembali membuka catatan. Dia bangkit menuju cermin. Berbicara di depan cermin adalah latihan paling sederhana. Tak lama, dia bergegas menuju kamar mandi. Membersihkan diri dan berwudhu. Dia selalu on time dalam beribadah.
Ahad Dhuha sudah didepan mata, dia pun sudah merasa siap sekarang. Usahanya membuahkan hasil. Acara kajian berjalan lancar. Sejak kejadian tersebut, Gani memutuskan bahwa pengisi kajian berikutnya adalah dari kalangan pengurus Masjid Kampus sendiri. Dia kembali diangkat menjadi mas’ul Masjid Kampus.
Awal semester tiga, amanah menjadi mas’ul rohis di jurusan Peternakan sudah usai. Kini dia fokus dengan mas’ul di Masjid Kampus. Begitu banyak organisasi menggiurkan bagi kalangan muda berbakat seperti Gani tetapi dia memilih organisasi rohis seperti ini. Gani memang kritis, peduli, rajin dan cerdas. Namun hal tersebut tidak terlihat dalam dunia akademiknya. Prestasi akademik seperti air laut, selalu pasang surut. Dia terlalu sibuk dengan aktivitas sebagai organistoris.
Sepucuk surat pemberitahuan nilai semester telah diterima oleh orang tua Gani. Mereka kuatir dengan aktivitas anaknya. Mereka bertanya mengenai aktivitasnya selama ini. Gani menjawab dengan lembut dan mantap bahwa dia sedang mencari jati diri di jalan-Nya. Jawab tersebut belum bisa membuaskan hati kedua orang tuanya. Gani disuruh pulang ke rumah. Sebagai anak, Gani menurut permintaan tersebut. Dia pulang. Di rumah, Gani seolah diinterogasi. Berbagai pertanyaan menyerang dan Gani dengan penuh senyuman menjawab setiap pertanyaan tersebut.
“Kamu ini sebenarnya sedang sibuk opo tho le?, kok nilai mu sampai turun begini?,”
“Gani sedang sibuk memperbaiki diri Mbok,” ucap Gani sembari meneguk kopi.
“memperbaiki diri, memangnya kamu salah opo tho?,” Si Mbok mengernyitkan dahi yang mulai keriput itu.
Melihat si Mbok menanggapinya dengan serius, Gani pun tak tega jika harus member jawaban yang terlalu panjang.
“Mbok, Gani ini sedang belajar agama Mbok. Gani merasa masa lalu Gani sangat kelam. Gani tak mau mengulangi bahkan terjerumus lagi.” Ucap Gani penuh penyesalan.
“Gani ingin menjadi lebih baik Mbok. Ingin menjadi anak yang shaleh dan suami yang baik untuk istri Gani kelak,” lanjutnya.
“Ini kesalahan Gani jika nilai akademik selalu pasang surut, tetapi Gani akan berusaha menyeimbangkannya Mbok,” kata Gani meyakinkan.
Si Mbok dan Abah menatap wajah anaknya penuh makna. Ada untaian kata tertahan dalam keheningan. Si Mbok meneteskan air mata bahagia melihat anak semata wayangnya telah dewasa. Sedangkan Abah langsung memeluk anaknya.
“Hebat kamu le, lanjutkan perjuangan mu !,” saran Abah.
Gani melihat si Mbok dengan penuh rasa iba dan mebalas pelukan Abah dengan erat. Kampung halaman memang menjadi obat pelepas rindu bagi Gani. Suasana damai dan hijau selalu membuat dia merasa berada dalam dekapan sang pencipta. Suara lantunan ayat-ayat suci Al Qur’an menambah damainya suasan kampung Tayem. Bergetar hati dan seluruh tubuh. Tetes air mata penyesalan dan rasa syukur tiada henti mengiringi setiap bacaan. Si Mbok mengintip sejenak dari balik tirai pintu. Lagi-lagi si Mbok terharu. Si Mbok berdoa kemudian.
“Ya Allah, terimakasih telah membuka pintu hati anak hamba. Semoga dia selalu istiqomah dan mendapatkan jodoh yang terbaik.”
Gani merasa ada yang aneh. Sebuah bayangan mengenai kakinya. Ia mencari sumber bayangan itu. Barulah dia ngeh ketika sosok si Mbok sedang memperhatiannya.
“Mbok?,” tanya Gani heran.
“Iya,” jawab si Mbok sembari menyusap air mata di pipi.
“Udah makan le?,” tanya si Mbok mengalihkan pembicaraan.
“Belum Mbok,” jawab Gani lembut.
Si Mbok mengajak Gani makan. Gani mengikuti langkah si Mbok dari belakang. Sarapan pagi sudah dihidangkan. Lauk kesukaan Gani, pepes ikan sengaja disiapkan oleh si Mbok. Suasana semakin lengkap karena Abah sudah berada di ruang makan. Mereka membaca doa bersama kemudian menyantap sarapan pagi penuh nikmat. Jarang sekali Gani bisa menikmati sarapan seperti ini. Dikelilingi anggota keluarga dan makanan kesukaannya. Waktu Gani habis untuk merantau ke Semarang.
Dering ponsel Gani mengalihkan perhatian semua orang di meja makan. Dia ingin membuka ponsel tersebut tapi dia merasa tak enak hati dengan kedua orang tuanya. Ponsel sengaja dia biarkan. Selesai makan, dia langsung mengembil ponsel tersebut. Membaca isi pesan. Dalam pesan tersebut, dia disuruh untuk segera kembali ke Semarang. Amanah dipanggulnya kini, dia sadar dengan hal tersebut. Gani mengejar si Mbok. Dia meminta izin besok pagi akan pergi ke Semarang. Si Mbok mencegahnya karena menurut perhitungan jawa, berangkat pada hari sabtu sangat tidak dianjurkan. Gani tersenyum dengan alasan tersebut. Dia merayu si Mbok.
“Mbok, kalo hari sabtu ndak boleh berpergian, kok jalanan tetep macet ya?,”
“Lha kan iku bocah-bocah sing bandel le,”
Si Mbok berbicara serius dan terlihat polos. Untuk membahagiakan si Mbok, Gani pun akhirnya nurut. Hari Minggu, pukul 07.00 WIB, ojek pesanan si Mbok untuk Gani sudah siap di depan rumah. Gani pamit berlalu bersama tukang ojek setelah pamit pada keuda orang tuanya.
Masjid Baitul Mu’minin sudah mulai terlihat, tukang ojek menepikan motornya. Gani segera meberikan selembat uang Rp 5.000,-. Sang ojek berlalu, sementara Gani terpaku menatap keindahan rumah Allah. Dia mengambil gambar Masjid tersebut sebagai pengobat kala rindu itu tiba. Foto Masjid di kampung dan keluarga sudah tersimpan rapi di file. Gani duduk menunggu bis yang akan membawanya menuju kota perantauan, Semarang.
Sepanjang perjalanan, aku memperhatikan betapa hebatnya Allah mencitakan pemandangan di luar jendela kaca bis. Gunung menjulang tinggi, sawah membentang luas. Burung-burung bersiul riang, Para petani sibuk menggarap lahan. Ada yang menggunakan kerbau untuk membajak sawah, ada juga yang sudah menggunakan tractor. Seorang anak kecil duduk di tegalan. Anak kecil itu mungkin sama seperti Gani ketika kecil menunggu si Mbok dan abah menggarap sawah. Namun Gani bukan anak yang pendiam, dia lebih memilih mengejar capung dan belalang ketimbang harus menghabiskan waktu memperhatikan dan menunggu kedua orang tuanya menyelesaikan pekerjaannya. Gani merasa akan sangat merindukan kampung halamannya, terutama kedua orang tuanya.
Sekitar pukul 13.00 WIB, Bis berhenti di terminal Purworejo. Dia meminta supaya sang sopir menunggunya sampai selesai sholat. Tak lama, Gani muncul. Dia mencari tempat duduk dan memposisikan diri diantara 30 penumpang lainnya. Iringan musik islam mengisi kekosongan waktu selama perjalanan. Maher Zain merupakan lagu kesukaan Gani. Lagu tersebut seolah mengingatkan dan menyemangatinya. Bukan lagu lainnya yang membuat dirinya menjadi pemuda galau oleh perasaan. Syahdu lagu tersebut seakan menina bobokan Gani. Dia terlelap.
Sorot senja membangunkan Gani. Dia melihat jam di tangannya menunjukan pukul 14.30 WIB. Tulisan Ungaran di tepi jalan membuat hatinya agak sedikit lega. Karena dengan begitu, dia tak akan meninggalkan sholat Asharnya.
“Masih sempat sholat Ashar di wisma,” ucapnya mantap.
Sesampainya di Semarang, Gani disambut oleh kawan-kawannya. Dia tak lupa membawa oleh-oleh dari kampung untuk dibagikan pada kawannya.
“Wah, oleh-oleh orang Cilacap apaan ya…?,” tanya Fajri salah satu kawannya.
“Apapun oleh-olehnya pan yang penting gratis dah…,” sahut Jerry dari arah belakang.
“Wah loe, muka-muka gratisan,” kata Farhan penuh canda.
Semua orang di Wisama tertawa. Wisama bukan sekedar kontrakan biasa karena penghuni merupakan kumpulan orang dengan semangat memperjuangkan agama Allah. Rasa kekeluargaan tercipta di dalamnya. Tak heran kami merasa rindu jika ada salah satu kawan pergi dari kontrakan. Entah itu pergi karena sudah wisuda maupun pulang kampung.
“Ya udah, aku mau sholat Ashar dulu nih. Belum sempet sholat di bis tadi,” kata Gani pada kwan-kawannya.
“Owh iya, bro…monggo,” jawab kawan-kawan Gani.
Usai sholat, Gani merebahkan tubuhnya pada tikar. Dia lebih suka tidur pada tikar di lantai dari pada harus tidur di sepring bed. Bukan karena dia berasal dari kampung, bukan karena dia tidak terbiasa dengan sepring bed. Hanya saja, bulan ini sudah memasuki musim kemarau. Cuaca kota Semarang akan terasa begitu panas jika musim kemarau tiba.
Suara Adzan memanggil. Kawan-kawan Gani bersiap-siap menjalankan ibadah. Jerry membangunkan Gani.
“Gan, bangun. Ayo sholat Magrib dulu,” ajak Jerry sembari menggerakankan tubuh Gani.
“Iya, ntar dulu. Aku mau ngumpulin nyawa,” jawab Gani.
Jerry tertawa.
“Ah… ketawa mu Jer, medeni !!,” ucap Gani bercanda.
Gani bangkit, mengambil wudhu lalu bergabung dengan kawan-kawannya. Melaksanakan ibadah sholat magrib berjama’ah, kemudian membaca al ma’tsurat. Hati Gani merasa tenag dan hidup.
Sholat Isya pun tak jauh berbeda, mereka selalu mengerjakan secara berjama’ah. Hanya saja,membaca al ma’tsurat dilakukan setelah sholat subuh dan magrib sedangkan kajian hanya dilakukan setelah sholat subuh. Semnatara kajian di luar wisma yaitu kajian Wisata Ruhani, Ilmu, dan Qur’an. Kajian rutin setiap minggu itu dimulai dari hari selasa sampai kamis.
“Loe udah ngisi KRS belum bro,?” tanya Jerry.
“belum,”
“Wah jangan ampe ketinggalan loe. Kelas B udah penuh nih.”
“Yang bener?,”
“Serius?,” tanya Fajri tidak percaya.
“Ah loe yang di Semarang aja kaga tau. Huuuu….” Ucap Farhan sedikit mengejek.
“Ya elah, pan gue ini orang sibuk bro,” kata Fajri membela diri.
“udah-udah. Terus gimana nih solusinya,” tanya Gani.
“Paling loe masuk kelas lain untuk mata kuliah Bahan Pakan Formula Ransum,” saran Jerry.
Pengisian KRS sudah menjadi tradisi bagi mahasiwa jurusan peternakan. Semester keempat dan amanah baru siap di tanggung.
Suara ayam milik Pak Imron mulai berkokok. Suara ayam saling bersahut-sahutan. Tukang sayur sudah sibuk dengan dagangannya. Para ibu rumah tangga mengerumuninya. Gani tak mau ketinggalan. Meskipun terlahir dalam jenis kelamin cowok. Gani menyukai masak-memasak. Pagi ini Seikat sayur kangkung, sekeres mentimun, tahu, cabai, dan bawang sudah berada ditangannya. Ia tersenyum puas. Dia bergegas untuk memasak setelah membayar lembaran uang sepuluh ribuan. Masakan Gani tak kalah dengan si Mbok rasa masakan menandakan bahwa Gani memang pandai dalam hal memasak. Kawan-kawannya selalu menyarankan agar Gani memasakan untuk kawan-kawannya. Mereka hanya ikut membayar bahan belanjaan Gani.
bro, loe cewek apa cowok. Masakan loe lebih enak dari Bi Tinah,” Kata Jerry sambil mengunyah makanan hasil masakan Gani.
“Wah kamu ngejek apa gimana nih?,” tanya Gambil sambil menyiapkan makanan untuk kawan-kawan lainnya.
“Beneran, masakan loe enak,”
Fajri merasa lapar pagi ini. Dia langsung nimbrung mereka berdua. Farhan tak mau ketinggalan.
“Waw. Ada makanan jatuh dari mana nih?,” tanya Farhan.
“Itu bukan jatuh. Tapi terlempar ke sini,” sahut Jerry.
“Paling nih masakan juru masak bang Gani,” terka Fajri.
“Tulllllll……,” Jawab Jerry masih sibuk mengunyah makanan.
Belum habis makanan dimulut Fajri dan Farhan, mereka serentak mengatakan enak.
“Enak bro,”
“Kamu luar biasa,” lanjut Fajri.
“Ngomong-ngomong. Abis ini, gue ditarik iruran kaga?,” tanya Jerry polos.
“Iya dong. Hari gini mana ada yang gratis,” sahut Farhan.
Muka anak kecil kalo ngga dikasih uang terlihat di wajah cowok kece jurusan Teknik Mesin ini. Dia memang paling lucu dan gampang akrab. Mungkin karena dia berasal dari kota hingga dia gampang akrab dengan siapa saja. Merasa kece dengan apa yang dia punya tanpa menyombangkan diri. Denger-denger dia pinter dalam hal menakhlukan makhluk ghaib. Konon kakeknya merupakan orang pinter.
“Gue bercanda kali. Hahahaha….,” ucap Farhan.
Musim kemarau yang panas pada siang dan terasa dingin pada pagi hari disulap oleh mahkluk aneh penghuni wisama “Bismillah”. Makhluk aneh kumpulan akhi alias cowok agamis penghuni wisma dari berbagai jurusan di Universitas Diponegoro. Canda tawa mewarnai pagi. Suara bebek milik pak Imron kalah seru dengan mereka. Tetapi selalu ada batasan dalam bercanda. Salah satu dari mereka sering menegur. Persahabat dalam ukhuwah. Mendekap hati, menepis iri.
Tiga berlalu bersama makna dalam ukhuwah cinta. Sekarang semua mulai sibuk. Tugas skripsi, seminar, penelitan menjadi sahabat terdekat.
“Pusing gue sama kaya beginian,” keluh Jerry.
“Hust, ngga boleh mengeluh akhi,” kata Gani.
“Bisa pusing juga loe Jer?,” tanya Farhan.
“Eh gue juga manusia…punya rasa, punya hati…,” sahut Jerry sambil meniru suara vokalis Serius band. Tampak muka serius dari wajah Fajri. Ia belajar keras akhir-akhir ini. Nilai akademik turun sama sepeti Gani. Orang tuanya yang menyarankan supaya berhenti kuliah tapi Fajri mengurngkan. Fajri yakin ada jalan terbaik. Dia belajar keras untuk mendapatkan Beasiswa mahasiswa akhir semester.
Muka Fajri terlihat murung.
“Kenapa Loe Jri?, Galooo ya?,” tanya Jerry usil.
“Bukan itu ekspresi lagi nahan ketawa,” usul Farhan.
Gani memperhatikan Fajri. Sementara Jerry dan Farhan sedang berkelahi seperti Tom and Jerry.
“Kamu kenapa Jri?, ngga biasanya kamu kaya gini?,” tanya Gani.
“Sebenernya gue disuruh berhenti kuliah. Nilai gue turun nih. Kan gue kuliah pake beasiswa kurang mampu. Nah kalo beasiswa gue dicabut karena nilai gue turun. Gue musti kuliah pake apa?,” kata Fajri.
“Iya juga,”
“Tapi kamu jangan patah semangat. Alloh pasti menunjukan jalan keluarnya,” tutur Gani menghibur.
Jerry dan Farhan berhenti.
“Hohss..Hosh….”
Suara tidak beraturan terdengar.
“Gue punya ide,” teriak Jerry masih dalam kondisi napas tidak teratur.
“Diragukan,” balas Farhan.
“Weh, reseh loe,” kata Jerry tidak terima.
“Sttt…akhi,” Gani menegahi.
“Apa ide mu Jer,?” lanjut Gani.
Napas telah kembali seperti semula. Teratur. Jerry mulai menjelaskan idenya.
“Jadi gini, kita kan calon ustadz,” kata Jerry.
Mendengar ucapan Jerry, Farhan mengangkat satu alis bagian kanannya.
“Calon ustadz?,” tanya Farhan menyeringai.
“Iya. Jadi kita perdalam ilmu agama kita. Ntar kalo ada kajian dapet honor. Kita sumbangin buat sobat kita,” saran Jerry.
“Ikh, ogah deh. Berarti ngisi kajiannya itu mengarapkan honor dong,”
Jerry dan Farhan bak listrik bermuatan postif dan positif mereka tidak mau menyatu. Atau seperti air dan minyak.
“Owh ide bagus. Tapi tujuan kita adalah berdakwah. Soal dikasih honor atau tidak itu urusan ke sekian,” tegas Gani.
Suasana hening sesaat.
“Eh katanya loe punya ilmu ghaib ya?,” tanya Farhan dengan penuh rasa penasaran.
“Owh iya,”
“jangan owh iya. Tapi dibuktiin dong,”
“Caranya gimana?,”
“Y aloe manfaatin ilmu loe itu,”
“Wah jangan-jangan loe suruh gue jadi babi ngepet,”
“Bukan ikh. Loe sembuhin tuh orang-orang yang kesurupan. Kan sekarang lagi musim galo,”
“Ide bagus,”
Akhirnya ide menjadi penyembuh orang sakit jiwa dipilih. Jerry sekarang sibuk mengubungi kakeknya. Ia juga sering mengeluh pulsanya sering hapis. Pasalnya kakek Jerry  tidak bisa membaca pesan, cuma bisa mengangkat telephone. Sebagai modal awal, kawan-kawannya memberikan uang sebagai pengganti.
Acara Mahasiswa Akrab (Makrab) yang berlangsung di Lawang Sewu menyisihkan kisah tak enak. Dua peserta mengalami kesurupan. Hal ini membuat Jerry harus turun tangan. Dia mengikuti petunjuk dari kakeknya, membaca beberapa surat dari Al Qur’an. Beberapa saat kemudian, kedua orang tersebut sadar.
Kejadian tersebut membuat nama Jerry dikenal berbagai orang. Mulai dari teman di jurusan, fakultas, universitas bahkan Semarang. Anehnya, Jerry terkenal dengan sebutan Paranormal ketimbang sebutan Kiyai.
“Ah…gue dipanggil paranormal, gan,” keluh Jerry sambil manyun 5 cm.
Semua penghuni wisam tertawa.
“Eh tapi loe hebat juga. Kaga nyangka gue,” celetuk Farhan.
“Ngomong-ngomong apa aja yang loe liat di sono Jer?,”
“Gue liat tentara bule bro, sama tentara matanya sipit banget. Terus waktu gue baca tuh surat. Si tentara sipit itu ngomong pake bahasa asalnya. Kayanya tuh dedemit dari Jepang deh. Pokonya mrinding dah. Gue aja ampe mau pipis di celana. Tapi sebagai akhi kece, gengsi dong gue musti takut sama dedemit apalagi harus pipis di celana,” kata Jerry dengan gaya alaynya.
Gani, Farhan dan Fajri menyimak kata-kata Jerry penuh antusias.
“Terus itu dedemit, bilang kalo tuh bocah yang kesurupan ngeluarin kata-kata kotor jadi dedemit di sono marah ma mereka,” lanjut Jerry.
“kata loe dedemitnya pake bahasa asing. Kok loe tau artinye?,” tanya Farhan penasaran.
“Yeah elah, pan biar kaya gini. Nilai mata kuliah Bahasa Inggris gue dapet A,”
“owh…..”komentar Farhan.
“Eh loe kaga kenalan siapa namanya Jer?,” tanya Fajri.
“Kata pepatah, apalah arti sebuah nama Jri,” balas Farhan penuh canda.
“Kamu engga ngajak ta’arufan tuh hantu Jer?,” tanya Gani.
“Wah-wah bang Gani sudah waktunya nih,” goda Jerry.
“Ikh waktu buat apa lagi,” sambung Fajri.
“Buat ta’aruf terus mengkhitbah lalau wlimahan deh. Asyiiik,” goda Jerry dan Farhan.
“Tumben kalian kompak bro…,” kata Fajri cekikikan.
Kemampuan Jerry dalam bidang ghaib semakin terlatih. Namun uang yang dihasilkan, ia sumbangkan untuk orang yang kurang mampu, Fajri, selebihnya untuk dirinya sendiri. 
Sumber Kompasiana.com 

 Facebook: Dewi Purwati

Twitter: @Dewi507

Share this article :

Kiprah Kader PKS

Arsip lain Kategori ini »

KOLOM OPINI

Arsip lain Kategori ini »

KOLOM INSPIRASI

Arsip lain Kategori ini »

KUMPULAN KULTWEET

Arsip lain Kategori ini »
Published by : PKS Dau ~ Indonesia
Copyright © 2013. PKS Dau ~ Indonesia - All Rights Reserved
Created and Support by A.M.C. Purnama
Proudly powered by Blogger