Home » , » Tirani Kekuasaan dari Zaman ke Zaman

Tirani Kekuasaan dari Zaman ke Zaman

Dipublikasikan Oleh PKS Dau pada Sabtu, 14 Desember 2013 | 06.21


Oleh: Usman Adhim. 
Sekertaris DPC PKS Kec. Dau Kab. Malang

“Renungan kecil ditengah riuh tawa dan tepuk tangan vestifalisasi KPK di hari anti korupsi sedunia”. Tirani setiap zaman  memiliki cara yang berbeda untuk mencekal perubahan. Ada yang menindas, merampas kedaulatan rakyat, mencekal setiap gagasan revolusi dengan tangan besi atau militer.

Seperti halnya syekh Sayid Qutub, tokoh penting Ikhwanul Muslimin (IM) yang dipancung oleh tirani rezim yang berkuasa di mesir saat itu karena gagasan “Syari’ah wa ad-Daulah” yang dianggap mengancam kekuasaan sekulernya.

Tirani setiap zaman memiliki cara yang berbeda untuk menindas merobohkan kembali keberanjakan para pemikir islam yang hendak mengembalikan pradaban Islam. Ada yang menggunakan otoritas kekuasaan secara politis, penuh dengan tipu daya, menunggangi prangkat struktural pemerintahan, membius seluruh masyarakat dengan opini dusta hingga menjadi “latah” dan “uring-uringan”.

Hari ini tirani makin halus, hampir tak teraba tipu dayanya. Semenjak ketika ORLA, tokoh tokoh islam menyadari bahwa keberadaan partai dapat menjadi alat yang efektif untuk mencapai tujuan.

Dibentuklah partai Majlis Syuro Muslim Indonesia (Masyumi), di antara tokoh pentingnya adalah: M. Natsir, KH. Isa Anshary, Burhanuddin Harahap, Syarifuddin Prawira Negara, Hamka, dll. Mereka adalah tokoh Islam yang melawan tirani dibalik paradigma demokrasi terpimpin dan nasakom penguasa rezim ORLA.

Ada yang menarik dari gagasan politik tokoh tokoh masyumi, yaitu di awali oleh gagasan besar “syari’ah wa ad daulah”. Gagasan ini sebetulnya  Adalah pemikiran A. Hassan Pendiri Ormas PERSIS, gagasan itu kemudian diwarisi oleh dua muritnya yaitu M. Nasir dan KH. Isa Anshary. Keduannya adalah funding father Masyumi. Pemikiran itulah paradigma afiliasi politiknya, yang kemudian menjadi sistem nilai politik Masyumi.

Gagasan ini menurut saya bersenyawa dengan gagasan politik Ikhwanul muslimin, juga gagasan “integrasi politik dan dakwah” PKS yang dikampanyekan Ust Anis Matta sebelum tahun 2004 sampai saat ini. Karena itu PKS lebih dekenal dengan sebutan “Partai Dakwah”, dan kader-kadernya familiar dengan sebutan “Kader Tarbiyah”.

Kembali kepada Masyumi, Ketika Masyumi hampir mencapai separuh dari target perjuangannya (jihad siyasoinya) yaitu mencapai suara kurang lebih 45%. kemudian Sukarno merasa terancam, dilakukanlah berbagai upaya penggembosan Masyumi. baik dari dalam, dengan menebar isu dikriminasi pada kader NU dengan istilah kalangan tradisional. Juga dari luar, di antaranya dengan merapat ke PKI dan alhasil meminta masyumi untuk bubar atau dibubarkan oleh pemerintah.

Setelah Masyumi dibubarkan, tokoh elitnya seperti M. Natsir, KH. Isa Anshary, Burhanuddin Harahap, Syarifuddin Prawira Negara, Hamka, dan masih banyak tokoh dan politikus Masyumi yang dipenjarakan rezim Soekarno tanpa proses peradilan, dengan tudingan kontrarevolusioner, membahayakan jalannya revolusi, dan mengancam keselamatan negara dan pemimin besar revolusi.

“Kok mirip sekali dengan yg diberitakan oleh koran jawa pos tgl 9/12/13, bahwa Luthfi Hasan Ishaaq (mantan presiden PKS) divonis 16 tahun penjara denda 1 miliar subsider 1 tahun, karena tiga hal: 1). Dianggap Mencemarkan nama baik PKS selaku partai dakwah, 2). Merusak citra dewan perwakilan rakyat, 3). Menurunkan tingkat kepercayaan masyarakat kepada DPR”

Kembali ke partai Masyumi

Lucunya, setelah sekian lama tokoh tokoh Masyumi dipenjarakan, kemudian dibebaskan para ahli hukum pada waktu itu mengeluarkan statemen secara tertulis yang ditandatangani oleh Dr. Wirjono Prodjokiduro, agar Masyumi direhabilitasi, karena pada waktu itu Masyumi adalah korban kesewenang-wenangan ORLA.

Sekali lagi amat lucu, padahal Dr. Wirjono Prodjokiduro pula, yang ketika itu menjadi ketua Mahkamah Agung, memberikan fatwa kepada Soekarno tentang keabsahan alasan hukum untuk membubarkan Masyumi berdasarkan penetapan presiden (Penpres) Nomor 7 tahun 1959 tentang penyederhanaan dan pembubaran partai politik.

Rehabilitasi partai masyumi bisa saja dilakukan tapi mengembakikan ruh gerakan masyumi tentu tidak bisa, karena NU telak menarik kadernya dan mendirikan PKB, sementara pemimpin baru PERSIS menghimbau kepada seluruh kadernya agar menstrilkan diri dari kegiatan pilitik dan kembali fokus kepada pendidikan dan pembinaan masyarakat.

Perjuangan masyumi menjadi legenda seperti kisah drama ‘kasih tak sampai”

Lantas bagaimana dengan PKS hari ini?

Menurut saya ada upaya kerah yang sama yaitu: kekhawatiran kalau kalau nanti 2014 PKS semakin besar dan kuat, sehingga menjadi salah satu penentu kibajakandi RI, maka hari ini semacam ada perkongsian penguasa dengan lembaga penunjang lainnya untuk mencekal PKS dengan berbagai macam cara agar tida mencapai jumlah yang dominan. Karena secar kuwalitas kader-kader PKS telah memenuhi standar. Lihatlah argumentasi Fahri Hamzah, Andi Rahmat DPR RI F-PKS, waktu menolak kenaikan BBM, dan bebagai persoalan yang mejadi tugas dan tanggung jawab DPR RI.

Akhirnya, saya yakin kelak anda akan mengetahuinya, seperti yang kita ketahui hari ini tentang pembubaran Masyumi dan penangkapan tokoh tokohnya dengan tuduhan pelanggaran hukum yang dipaksakan.

Kesadaran itu umumnya datang setelah melakukan kesalahan lalu bertaubat, seperti yang dilakukan oleh Soekarno menjelang kematiannya. Sebagaimana cerita anaknya Buya Hamka bahwa; “sebelum meninggal Soekarno menulis wasiat berisi permintaan maaf kepada Hamka dan meminta agar bersedia mensholatkan jenazahnya ketika meninggal dunia”.

Insya Allah, pada akhirnya waktu yang akan menyingkap kebenaran dan kejahatan di balik persoalan yang menimpa PKS dan kader-kadernya, dan kelak anak cucu kita akan menyaksikannya. Karena itu saya ingin anak cucu saya bangga karena kakeknya berada di antara barisan kebenaran itu. Aamiin...

Allahua’lam bish-showwab..

---------------
Rujukan:
•  Peran perubahan pemikiran PERSIS (disertasi Badri Khoiruman)
•  Dibalik pembubaran Masyumi oleh ORLA (analisa Yusril Ihzamahendra)
•  Integrasi politik dan dakwah (oleh Anis Matta).

Share this article :

Kiprah Kader PKS

Arsip lain Kategori ini »

KOLOM OPINI

Arsip lain Kategori ini »

KOLOM INSPIRASI

Arsip lain Kategori ini »

KUMPULAN KULTWEET

Arsip lain Kategori ini »
Published by : PKS Dau ~ Indonesia
Copyright © 2013. PKS Dau ~ Indonesia - All Rights Reserved
Created and Support by A.M.C. Purnama
Proudly powered by Blogger