Home » » Jurus Mabok KPK dan Jaksa untuk Sang Presiden

Jurus Mabok KPK dan Jaksa untuk Sang Presiden

Dipublikasikan Oleh PKS Dau pada Senin, 09 Desember 2013 | 14.31

Sikap Plin Plan Peradilan. 
Sebentar lagi kita akan menyaksikan kesuksesan terbesar KPK dan Jaksa dalam mengungkap dan membongkar kasus korupsi impor daging yang menghilangkan nama nama penting yang sangat berperan dlam kasus tersebut.

KPK dan jaksa sekaligus sukses memenuhi pesanan kasus ini karena dinilai oleh banyak pihak yang sangat benci dengan LHI cs dan Partainya kasus ini harus membuat yang bersangkutan terbunuh karakternya dan partainnya harus juga terkubur.

Segala daya upaya dilakukan agar kasus ini fokus pada pihak tertentu saja walaupun dalam realitanya melibatkan banyak pihak. KPK semakin menunjukkan kerapuhannya saat berhadapan dengan kasus ini dan dengan bangganya mengatakan sukses memberantas korupsi.

Terdakwa kasus impor daging sapi di Kementerian Pertanian Luthfi Hasan Ishaaq akan divonis pada Senin (9/12/2013) oleh Majelis Hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta. Namun, kuasa hukum merasa khawatir.

Kekhawatiran ini terutama pada cepatnya putusan vonis. Kekhawatiran itu mengingat rentan dari pledoi LHI dengan putusan vonis, sangat singkat dan di luar kebiasaan.

Pledoi mantan Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dibacakan pada Rabu (4/12/2013). Sementara vonis pada Senin ini. Majelis Hakim Tipikor hanya punya waktu 2 hari kerja yakni Kamis dan Jumat (5-6/12/2013) untuk menyusun vonis.

Kesuksesan Pengadilan Opini

sore ini (Senin, 9/12) akan dibacakan vonis untuk luthfi hasan ishaaq. ada sebuah opini yang dibangun media dan KPK terkait pembacaan vonis terhadap LHI sore ini. mereka (KPK dan media) membangun opini “vonis LHI adalah hadiah untuk hari anti korupsi yang bertepatan jatuh pada hari ini”. mereka menganggap vonis LHI sebagai hadiah, berarti secara eksplisit mereka sudah ‘tahu’ bahwa LHI akan tetap divonis bersalah dengan vonis hukuman yang telah mereka siapkan.

Saya mungkin hanya mengingatkan; kita semua harusnya sadar mereka (KPK dan media) memang sudah menyiapkan vonis buat LHI sudah sejak lama. dengan penjadwalan sidang yang dimajukan dua hari dari waktu biasanya; biasanya hari rabu ditambah; motivasi agenda berita nya “sebuah hadiah buat hari anti korupsi”.

bukankah sangat mudah di baca; KPK beserta media perjuangannya seperti TEMPO, Detik.com semuanya sudah mengeluarkan tagline; “hadiah hari anti korupsi dengan pembacaan vonis buat LHI’. kalau kita berani analogi kan; sebuah hadiah pasti lah sebuah hal yang mengejutkan, sangat berarti sehingga membuat yang berulang tahun tertawa bahagia, serta akan menjadi sebuah ‘berita’ besar

KPKmemang sedang merayakan hari anti korupsi dengan merayakan vonis buat LHI dan hadiahnya tentu bukan hadiah ‘kecengan’. hadiah nya berupa vonis hukuman yang menempatkan seolah olah KPK adalah lembaga anti korupsi yang jumawa dan berhasil

ironis bagi saya. dikala kemarin baru saja KPK membatalkan kasasi buat istri nazarrudin yaitu neneng sri wahyuni. sekali lagi; membatalkan kasasi tuntutan untuk istri nazarrudin. lalu apakah pantas; mereka KPK dan media berlaku seolah olah lembaga paling benar dan jumawa dalam penegakkan hukum anti korupsi.

KPK harusnya ‘BERKACA’ malu dengan tindakannya. Satu sisi bertindak tidak adil dengan membebaskan tersangka korupsi neneng sri wahyuni (istri nazarrudin) dengan pembatalan kasasi. lalu berubah wajah sok menjadi lembaga paling superior dalam penegakkan hukum di dalam menjatuhkan vonis buat LHI

KPK bermuka dua. KPK memiliki standar ganda. satu sisi masih mau berlaku layaknya lembaga anti korupsi yang anti koruptor.tapi di sisi lain malah melindungi dan menjaga baik baik para koruptor dari jeratan hukum. KPK dan media yang menjadi perjuanggan nya; memang seperti ‘SUDAH’ tahu berapa vonis buat LHI tidak lah mungkin; yang namanya hadiah adalah hal yang mengecewakan

tidak mungkin sebuah hadiah hari anti korupsi dengan hadiah berbentuk vonis bebas yang bakal diberikan buat LHI. sangat sistematis dan terencana KPK membuat opini 
dengan men sett semuanya seolah olah ajang pertujukkan.

harusnya KPK MENGACA DIRI dulu lah; sebelum merasa diri mereka sebagai lembaga yang berhasil dalam perang anti korupsi. ngaca kepada kasus century yang tidak pernah selesai selesai. ngaca kepada kasus hambalang dan wisma atlet yang tidak ada ujung habisnya alias serba tidak jelas

KPK seolah mendapatkan pesanan di balik pembacaan vonis buat LHI sore ini. pesanan opini untuk membusukkan dan menghancurkan karakter.

seandainya kasus LHI ini bukan berdasarkan settingan atau pesanan; seharusnya biarkan alam pengadilan yang memutuskan secara independen, netral dan terbaik; apabila LHI salah, biarkan vonis itu bukan berdasarkan sebuah pesanan dan bukan semata sebuah tekanan.

biarkan alamiah dan se natural mungkin apa adanya sebuah pengadilan tipikor yang berintregitas baik.tidak seperti saat ini. semua seperti tersetting dan terencana. masa’ pembacaan vonis di jadikan sebuah hadiah

berarti hadiahnya sudah disiapkan sejak lama dong. hanya KPK dan Sang Khalik yang Maha Tahu;
berani jujur berat sekali. standar ganda KPK

Cap koruptor pada LHI sangat melekat gara-gara:

Pertama: Berteman dengan calo proyek yang memanfaatkan namanya untuk dijual pada pengusaha-pengusaha. Seharusnya jadi korban malah tercap koruptor. Jadi hati-hati berteman dengan calo, termasuk calo opini.

Kedua: Karena calo proyek tersebut menjual namanya sehingga dengan mudah tuduhan “akan” menerima suap diarahkan ke muka LHI. Hati-hati mungkin suatu saat ada orang yang pernah bertemu dan pernah kenal dengan anda lalu tiba-tiba tertangkap membawa ganja kemudian dikatakan akan diberikan kepada anda.

Ketiga: Gara-gara membahas peredaran daging oplosan Babi dengan pengusaha sehingga dengan mudah dituduh bersepakat menaikkan impor daging. Hati-hati diskusi dengan pengusaha nanti bisa dianggap konspirasi mengguncang ekonomi Negara.

Keempat: Gara-gara menampung sumbangan para dermawan untuk disalurkan pada masjid-masjid dan Yayasan Islam sehingga dituduh pencucian uang. Hati-hati ustadz yang menampung sumbangan di pinggir jalan nanti bisa dituduh pencucian uang.

Kelima: Gara-gara Berprofesi sebagai politisi sekaligus sebagai pengusaha.

Anggaplah LHI diputus bersalah hari ini, maka LHI akan dihukum sebagai koruptor penerima suap yang tidak pernah menerima uangnya sama sekali dan LHI dihukum pencucian uang atas suap yang tidak pernah diterimanya.

Maka dengan kondisi tersebut wajarlah LHI dalam pledoi pembelaannya menantang majelis hakim untuk bertemu kembali di pengadilan Akhirat untuk membuktikan siapa yang benar sesungguhnya.

Masa depan hukum kita sudah tidak jelas lagi karena sudah ternodai oleh banyak kepentingan. Keadilan dan kebenaran terkubur dalam dalam berganti dengan kejahatan hukum. Semakin runyam, ruwet dan tidak tentu arah sistem peradilan kita. Sungguh inilah atraksi kebohongan mengatasnamakan penegakkan hukum. [kompasiana/politik/saefudin_sae]
Share this article :

Kiprah Kader PKS

Arsip lain Kategori ini »

KOLOM OPINI

Arsip lain Kategori ini »

KOLOM INSPIRASI

Arsip lain Kategori ini »

KUMPULAN KULTWEET

Arsip lain Kategori ini »
Published by : PKS Dau ~ Indonesia
Copyright © 2013. PKS Dau ~ Indonesia - All Rights Reserved
Created and Support by A.M.C. Purnama
Proudly powered by Blogger