Home » » Pesona Politik Mesir, dari Zaman Fir’aun Hingga Kini

Pesona Politik Mesir, dari Zaman Fir’aun Hingga Kini

Dipublikasikan Oleh PKS Dau pada Senin, 05 Agustus 2013 | 13.47

Pesona Mesir selalu mengundang perhatian dunia, tak hanya diingat dengan artefak-artefak peradaban kunonya, fenomena-fenomena geografis, atau sejarah klasik negeri yang dijuluki “Ardhul Kinaanah (tempat anak Panah Allah dibumi)” ini.

Lebih mendalam Mesir secara historia telah banyak mengisahkan perjalanan politik yang panjang dan penuh drama pergolakan yang selalu berawal pada konfrontasi kepentingan antar pihak yang mensupremasi asas keilahian dengan kelompok yang mempertuhankan pagan hingga akhirnya menjadi episode tragedi. Diawali kisah Fir’aun sebagai dinasti terpouler disamping Dinasti Ptolomeus lewat Cleoptranya, lalu Alexander Agung dari dinasti Argead, atau King Scorpion dinasti pertama, kemudian Mesir yang pada akhirnya dijajah Britania Raya kurun 91 tahun yang lalu.

Fira’aun, Sejarah politik populer Mesir diawali ketika ketamakan akan kekuasaan yang beralih pada pemaksaan pemujaan serta ketertindasan rakyat menjadi hiburan Sang Raja, datanglah Musa As yang notabene anak angkat Sang Raja untuk meluruskan perkara ketertuhanannya Fir’aun kala itu, lalu berakhir pada pergolakan bala tentara antara tentara Allah (jundillah) dengan militernya fir’aun penyihir yang berkomposisi tukang sihir. Singkatnya fir’aun pun mati ditelan laut merah, saat mencoba menyeberangi laut itu setelah dibelah Musa As untuk menyeberang bersama pasukannya.

Masih teringat pula peristiwa perang Salib di sungai Nil yang kembali berkaitan dengan perebutan kekuasaan tanah Mesir antara bala tentara dari komando Frederick II berhadapan dengan pasukan islam yang di pimpin langsung oleh Salahuddin Al-ayyubi, sebelumnya Frederick II berhasil merenggut Mesir dari kekuasaan Raja kala itu - Dimyath, yang kemudian direbut kembali oleh pasukan muslim selang lebih kurang 28 tahunan, pun dengan tanah palestina.

Era politik modern akhirnya datang, yang paling terkenal ialah rezim Hoesni Mubarak yang memegang kekuasaan 32 tahun, lebih lama dibanding fir’aun (Tutankhamun) yang hanya 9 tahun berkuasa. Konon akan kembali bangkit lewat pergolakan militernya. Memang nostalgia antara Mubarak dengan Militer Mesir menghadirkan kenangan yang indah, kebijakan ekonomi yang diterapkan Mubarak untuk Militer membuat Militer Mesir lebih memilih berkuasa dibidang ekonomi dibanding harus terjun langsung ke panggung politik Mesir, terbukti dengan lebih 20% perusahaan Mesir dikuasai Militer, kekuasaan Mubarak pun stabil dilindungi militer kala itu.

Pasca Revolusi Mesir keadaan politik berubah, Rezim diktator ini-pun harus turun panggung lalu digantikan dengan sistem politik baru, Demokrasi. Perjalanan Demokrasi Mesir awalnya berjalan baik dengan menempatkan rakyat sebagai penentu kekuasaan negara lewat pemilu yang kemudian menghadirkan konstitusi baru untuk Mesir. 24 Juni 2102 Dr. Muhammad Moersi terpilih sebagai presiden pertama Mesir lewat Pemilu, dan Paman Sam pun memuji perjalanan politik Mesir yang dinilai demokratis ini. Situasi kemudian kembali memanas, ketidakberpihakan kondisi negeri yang diklaim oleh kelompok Sekular-Liberal Mesir sebagai pemberontakan rakyat yang dieksekusi oleh Junta Militer Komando Abdul Fatah As-sisi berhasil menggulingkan kepemimpinan yang baru 1 tahun menata taman-taman peradaban Mesir tepatnya 30 Juni 2102 - Moersi dikudeta.

Akibat pergolakan ini, banyak korban jiwa yang telah tergadaikan, aktivis IM bersama Rakyat Mesir pendukung Moersi seperti yang diberitakan dibeberapa Media lebih dari 480 meninggal dunia, 8000 terluka, lebih dari 1500 ditangkap, dan diperburuk dengan ditutupnya beberapa Channel TV Mesir untuk menutup akses informasi dunia bahwa di Mesir sedang ada pembantaian.

Keadaan ini jelas memperburuk cara berdemokrasi Mesir, dan tentu merusak makna Demokrasi yang sesungguhnya setelah AS mengingkari Demokrasi Mesir dengan mensetir Militer pasca terpilihnya Moersi dari kelompok Gerakan Islam Ikhwanul Muslimin. Lantaran kebijakan Moersi yang dinilai tidak bisa “diandalkan” untuk kekuasaan Israel dan AS di Palestina dan diduga berpotensi merusak kepentingan AS di Mesir dan Timur tengah.

Mesir kembali menyajikan cerita duka di meja makan kita, di antara episode pergolakan politik negeri Islam lainnya, Suriah, Bosnia, Afghanistan, Iraq, Turki, Lebanon hingga Palestina, pun juga negeri kita tercinta ini, Indonesia. sekarang Mesir gilirannya.

Dari keseluruhan perjalanan politik Mesir, memang sejak dulu negeri ini selalu menghebohkan dunia dalam percaturan politiknya, tak lepas dari tragedi dan peristiwa yang ada sedari dulu hingga sekarang.

Mesir memang mempesona. #SaveEgypt [kompasiana/Ahmad_Risani]
Share this article :

0 komentar:

Posting Komentar

Kiprah Kader PKS

Arsip lain Kategori ini »

KOLOM OPINI

Arsip lain Kategori ini »

KOLOM INSPIRASI

Arsip lain Kategori ini »

KUMPULAN KULTWEET

Arsip lain Kategori ini »
Published by : PKS Dau ~ Indonesia
Copyright © 2013. PKS Dau ~ Indonesia - All Rights Reserved
Created and Support by A.M.C. Purnama
Proudly powered by Blogger