Home » » Perjuangan Dakwah dan Politik Partai Islam

Perjuangan Dakwah dan Politik Partai Islam

Dipublikasikan Oleh PKS Dau pada Rabu, 31 Juli 2013 | 13.23

Dakwah Islamiyah dan Politik tidak bisa di pisahkan. Karena jika Islam di pisahkan dengan politik jatuhnya akan sekuler. Partai politik yang pada dasarnya adalah partai Islam sering kali diserang dengan lawan politinya (Partai/Organisasi Sekuler) karena membawa bawa agama ke ranah politik.

Mereka berkayakinan jika agama di bawa ke dunia politik, agama akan menjadi kotor dan menghalalkan segala cara. Sekarang kita bisa lihat PKS sebagai partai kader di Indonesia kerap kali mendapatkan hujatan dan isu isu negative dari lawan politiknya. Mengapa itu terjadi? itu terjadi karena Partai Keadilan Sejahtera meruapakan partai minoritas di politik Indonesia.

Partai dakwah ini adalah partai kader, walaupun secara oprasional dalam progaram kerjanya PKS adalah gerakan masal yang memobilisasi masa untuk berjuang berasama sama PKS untuk membangun Indonesia yang karut marut ini. PKS harus menyadari sebagai sebuah partai dakwah yang secara keoraganisasian adalah kader tidak mungkin dari sudut populasi dan kuantitas SDM menjadi mayoritas, karena partai kader selamanya akan menjadi minoritas. Yang bisa menjadi mayoritas, walau sifatnya temporal itu hanya organisasi masal atau partai masa yang biasanya secara organisatoris cair, dan karena cair, maka cendrung labil. Anggota dan kadernya, mudah berpindah ke partai lain. Tidak jarang mangkanya kita sering menemukan kader partai lain membongkar mantan partainya.

Kalau kita renungi sejarah 15 tahun PKS berdiri di Indonesia, kita bisa melihat ideologi yang di anut partai kader ini adalah idelogi Islam. PKS selalu fokus membina kader kadernya dengan manhaj Tarbiyah. Sistem pengkaderan yang rapih menjadi alasan mengapa PKS tetap kuat dan ada di belantara politik Indonesia yang penuh dengan konspirasi. Partai seperti PKS tidak perlu khawatir kadernya terkena infiltrasi personil. Karena sistem tarbiyah dan taqwim yang begitu ketat dan panjang menyulitkan orang melakukan infiltrasi kedalam partai dakwah ini.

Kita bisa melihat partai non kader/ partai masa di Indonesia. Banyak partai yang ingin menjadi partai masa karena ingin mendapatkan kemenangan yang instan. Tapi perlu kita ketahui kemengan yang muda di dapat akan mudah hilang dan habis, serta dilupakan. Tapi kemenangan yang lama diperjuangkan dan didapatkan akan sangat lama juga dipertahankan dan dilupakan. Kita bisa lihat partai Demokrat, partai besutan SBY ini baru berdiri tapi cepat menjadi partai penguasa di Indonesia. Demokrat sukses karena tokoh pada kala itu yaitu SBY. Tapi ketika peran tokoh itu sudah pudar partai masa tersebut akan pincang dan seperti yang saya bilang tadi partai masa secara organisatoris cair, dan mudah labil. Secara perlahan partai ini pun merosot elektabilitasnya. Sebenarnya tidak hanya karena masalah korupsi yang didapat partai belambang mercy tersebut, tapi karena perpecahan kader. Tidak hanya demokrat, kita bisa lihat PKB. Partai yang besar karena sosok GusDur pada kala itu mencoba memadukan Islam dan nasionalis, tapi tetap mengakui PKB adalah partai masa. Seiring berjalannya waktu partai ini pun semakin mundur. Terbukti Pemilu tahun 2004 partai ini mendapat 11.989.564 suara dan di Pemilu tahun 2009 turun drastis menjadi 5.146.122. Penurunan drastis itu lagi lagi karena adanya perpecahan kader di kubuh PKB anatara Yeni Wahid dan Muhaimin Iskandar. Dari kejadian kejadian itu kita bisa lihat dampak menjadi partai masa.

PKS memang bukan partai mayoritas yang selalu mendapat hujatan baik dari media dan lingkungan. Tak urung survey selalu menjatuhkan elektabilitas PKS. Tapi pertanyaannya mengapa suara dan peringkat PKS di setiap Pemilu mulai dari 1999 sampai 2009 terus menanjak? Itu semua karena PKS berhasil memelihara usrah di kubuh kader kadernya. Dalam spekrum ideologi politik sendiri, ada 3 tingkatan jajaran didalam organisasi. Tingkat paling bawah diisi oleh simpatisan, tingkat tengah diisi oleh kader, dan tingkat paling atas diisi oleh elit. Kebanyakan partai di Indonesia fokus ditingkat paling atas yaitu elit, sehingga tidak terlalu memperhatikan kader dan simpatisannya. Itulah yang menyebabkan kader kutu loncat (kader yang pindah partai ke partai lain) dan tidak memiliki simpatisan yang tetap setia dengan idelogi dan partainya. PKS sendiri fokus di tengah tengah yaitu kader, mereka sadar mereka minoritas dan dari kaderlah PKS bisa besar. Kader posisi kader ada ditengah tengah antara elit dan simpatisan. Dengan itu PKS mampu menyeimbangkan dan menyelesaikan masalah dari tingkat bawah dan atas.

Bagaimana Pemilu 2014? PKS diprediksi akan jatuh karena dugaan suap yang menjerat Luthfi Hasan Ishaq. Semuanya bisa kita lihat PKS berhasil sukses menjadi 3 besar dari 3  cara: Pertama, seberapa banyak PKS memenangkan Pilkada di daerah daerah besar dan strategis. Jabar, Sumut, Padang dan kota dan kabupaten telah dikuasasi PKS. Kota dan kabupaten di jabodetabek seperti Depok, Bekasi, Bogor, di pimpin oleh kader kader PKS baik menjadi Wali kota, Wakil Wali kota, Bupati, dan wakil Buapati. Belum lagi kota kota besar seperti Bandung yang memiliki penduduk banyak dan padat. Kemudian masih banyak lagi kota dan kabupaten di luar pulau Jawa seperti padang panjang, deli serdang, dan kota dan kabupaten di pulau Kalimantan, NTB, dan Sulawesi. Itu semua akan menjadi modal PKS mendulang suara di Pemilu 2014.

Kedua, Luthfi Hasan bisa terbukti tidak bersalah. Tidak bersalah di sini bukan berarti Luthfi bebas. Karena musuh musuh PKS akan mengeluarkan banyak cara agar Luthfi dipenjara. Paling tidak Luthfi Hasan dan PKS berhasil membutktikan fakta, bukti, dan sangkaan yang diutarakan ke partai dan mantan Presidennya tidak kuat. Misalkan, Luthfi Hasan dituduh menerima uang 1M. Tapi uang 1M itu sampai sekarang tidak terbukti ada tangan Luthfi Hasan. Dengan itu publik akan tahu dan membuka mata terkait kasus ini. Apalagi kader dan simpatisan PKS adalah gololngan intelk dan pemuda yang lebih faham terkait kasus tersebut.

Ketiga, Penguatan dan kesolidan kader PKS. Ini adalah tantangan berat PKS terutama kader. Kader PKS harus membuktikan minoritas adalah calon pemenang. Karena tidak ada dalam sejarah pemenang berasal dari mayoritas tapi berasal dari minoritas. Kader PKS harus bisa mengajak publik tahu bahwa PKS benar benar tulus membangun bangsa. Kita bisa lihat prestasi dan kebersihan partai ini. Partai yang korupsi itu banyak selain PKS, tapi karena media yang membesar besarkan saja kasus dugaan suap yang dilakukan kader PKS. Inilah saatnya kader PKS menyuarakan PKS dengan ideologi Islamnya bisa menjadi soluisi memperbaiki Indonesia yang karut marut. Selain PKS juga harus memberdayakan kadernya diluar negeri untuk memobilisasi WNI memilih PKS. Banyaknya kader PKS di luar negeri bisa menjadi bisa modal PKS untuk mendapatkan 1 jatah kursi di parlemen dan pemerintahan. (Kompasiana/Pandu Wibowo)
Share this article :

0 komentar:

Posting Komentar

Kiprah Kader PKS

Arsip lain Kategori ini »

KOLOM OPINI

Arsip lain Kategori ini »

KOLOM INSPIRASI

Arsip lain Kategori ini »

KUMPULAN KULTWEET

Arsip lain Kategori ini »
Published by : PKS Dau ~ Indonesia
Copyright © 2013. PKS Dau ~ Indonesia - All Rights Reserved
Created and Support by A.M.C. Purnama
Proudly powered by Blogger