Home » » Mengapa PAN serang PKS Gara-gara Tersebut Nama Menko Dalam Sidang LHI

Mengapa PAN serang PKS Gara-gara Tersebut Nama Menko Dalam Sidang LHI

Dipublikasikan Oleh PKS Dau pada Rabu, 31 Juli 2013 | 10.39

Mengapa PAN harus melaporkan PKS ke polisi gara-gara Hatta Radjasa sebagai Menko Ekuin disebut dalam persidangan kasus suap impor daging. Sejak awal PKS sudah memilah kasus ini dari partai karena memang tidak ada kaitannya dengan partai. Sementara kasusnya sendiri belum jelas. Sehingga biarlah LHI mengklarifkasinya tanpa tendensi kepentingan partai.

Jadi sejak semula PKS sudah secara resmi dan legal formal memilah kasus hukum ini dari politisasi kasus yang seringkali terjadi selama ini. Sayangnya ada pihak yang tetap ngotot menggunakan berbagai cara termasuk menggunakan media untuk menarik kembali kasus hukum ini dalam piciknya dunia politik di negeri ini. Sehingga kemudian kader terpaksa melayaninya demi menjaga prestasi PKS sejauh ini.

Di mana fakta menyebutkan sampai laporan ICW tahun 2012 PKS tidak satupun terjerat kasus korupsi. Bahkan sangat aktif membuka kasus gratifikasi yang menjadi terungkapnya berbagai kasus korupsi dan suap. Baru kasus LHI ini saja menimpa PKS. Itupun penuh kontroversi dan diragukan oleh pakar hukum. Sampai seorang budayawan berani dan kritis sekaliber Ridwan Saidi menyebutnya pengadilan palsu. Sehingga Fachri Hamzah yakin, bahwa PKS sudah 15 tahun berdiri tidak pernah ada kasus korupsi, baru kali ini saja dan yakin kasus ini pun akan bebas murni.

Jadi pembiasan kasus hukum yang belum jelas ini menjadi tarik-tarikan politik, bukan keinginan PKS sendiri. Tapi dari pergerakan eskalasi media dan publik yang seolah digenjot untuk menyerang PKS dengan membabi buta. Sementara kita semua tentu faham, kasus suap daging impor itu adanya di ranah Mentan, Memperindag yang berada di bawah Menko. Kalaupun ada kader partai terjerat kasus itu, maka selesaikan secara hukum. Kecuali sudah jelas ada kasus suapnya dan ada aliran dana suapnya kepada partai.

Sejauh ini pengadilan berjalan baik-baik saja, dan fakta-fakta mulai terungkap. Walaupun penghakiman kepada LHI dan PKS terlalu berlebihan dalam ranah publik. Sampai merubah survey yang semula PKS diprediksi bisa meraih 3 besar dan cenderung memenangkan pemilu, berubah sementara menjadi partai kecil kembali. Ini menunjukkan media publikasi bekerja berkali-kali lipat dibandingkan proses hukum yang menjelaskan duduk perkara kasus ini sendiri yang menjaga agar tidak melahirkan perpecahan di masyarakat.

Yang kemudian menjadi heran adalah ketika fakta pengadilan menyebutkan nama Hatta Radjasa dalam kapasitas sebagai Menko Ekuin mengapa kemudian yang ribut malah PAN dan bermaksud melaporkan PKS ke polisi. Ini jelas kembali terjadi pembiasan kasus hukum dan politik. Padahal ini adalah kasus hukum di ranah eksekutif jadi tidak perlu sampai melebar kepada kasus politik dan kepartaian. Sehingga harus mengkebiri proses hukum menjadi sekedar intrik-intrik politik. Biarkan fakta pengadilan membuka kasus dengan bebas dan lugas. Jangan dikorbankan kemuliaan hukum atas nama pencitraan partai apalagi perorangan.

Karena itu dengan tindakan PAN melaporkan PKS ke polisi ini membuat dugaan yang macam-macam.

1. PAN terlibat sejak awal mensetting kasus suap impor daging ini untuk menurunkan angka survey PKS yang 3 besar. Tidak perlu membayangkan PAN dkk mensetting KPK, tapi proses aktivitas pembentukan opini publiknya yang melalui berbagai lapis publikasi dan berbagai bentuk media serta berbagai resep penyajian. Sehingga ketika fakta pengadilan membuka kasus ini lebih jauh dan menyebut Menko, frame kepartaiannya terlalu nempel dan langsung tersinggung.

2. Pelaporan ini juga membingungkan, apakah membela PAN atau membela seorang Hatta Radjasa? Karena tentu saja dampak dari pelaporan ini membuka ruang public untuk membentuk opini. Mengapa yang sibuk dan terganggu itu orang partai. Malah menimbulkan dugaan adanya suap yang dialirkan ke partai. Kalaupun mau staf menko yang akan dituduh tersangkut kasus suap yang merasa harus membela Hatta Radjasa sebagai menko. Tapi, ya inilah ribetnya soal rangkap jabatan. Dan itu sudah menjadi pilihan PAN sendiri.

Padahal kalau saja dijelaskan sama menko, bahwa permintaan PT Indoguna untuk menambah kuota itu ditolak. Dan kemudian juga di Mentan terjadi penolakan yang sama. Maka selesai, bahwa kasus penyuapan itu tidak terjadi. Maka kasus ini selesai dengan fakta hukum tidak ada kasus suap daging impor ini. Tidak perlu sampai jauh-jauh sampai kepada urusan PAN dengan PKS.

Hanya saja saya ingin angkat soal saling pecaya antar partai di negeri ini sudah semakin luntur. Sehingga dengan mudah tersinggung dan menilai ada niat saling menyerang antar partai. Fachri Hamzah pernah menyampaikan pesan yang baik kepada Ulil Absar Abdala seorang kader Demokrat, bahwa kalau ingin mengecilkan PKS besarkan saja Demokrat.

Sudut pandang ini penting sebagaimana disampaikan oleh Yusril Ihza Mahendra bahwa menjawab persteruan global ini harus kita jawab dengan meningkatkan semangat kebangsaan. Tidak ada kebesaran yang hakiki dari aktivitas mengecilkan pihak lain. Karena hakikatnya kita semua menjadi kerdil. Tapi kebesaran kita muncul ketika kita semua sama-sama bergerak membesar.

Mahfud MD kembali memberikan inspirasi segar pagi ini dengan berbagi kisah suami istri Muhammad saw dengan Aisah. Ketika beliau pulang malam dan tidak tega membangunkan istrinya, beliau tidur di dekat pintu. Ternyata demikian juga Aisah tidur dekat pintu agar dari langkah Muhammad saw saja dia bisa segera bukakan pintu. Sikap saling menghargai ini muncul karena adanya saling kepercayaan. Menurut Mahfud MD kalau saling percaya maka pasangan akan saling menghargai dan muncullah tindakan untuk saling mendukung.

Maka sudah saatnya potensi bangsa ini belajar untuk saling percaya dan berbuat untuk bisa dipercaya. (Kompasiana/Andri 24id)
Share this article :

0 komentar:

Posting Komentar

Kiprah Kader PKS

Arsip lain Kategori ini »

KOLOM OPINI

Arsip lain Kategori ini »

KOLOM INSPIRASI

Arsip lain Kategori ini »

KUMPULAN KULTWEET

Arsip lain Kategori ini »
Published by : PKS Dau ~ Indonesia
Copyright © 2013. PKS Dau ~ Indonesia - All Rights Reserved
Created and Support by A.M.C. Purnama
Proudly powered by Blogger