Home » » Memaknai Ruhul Jihad dalam Konteks Jihad Siyasi

Memaknai Ruhul Jihad dalam Konteks Jihad Siyasi

Dipublikasikan Oleh PKS Dau pada Minggu, 16 Juni 2013 | 13.49

Malang, 16 Juni 2013. Siang ini aula Hotel Mandiri, Sengkaling dipenuhi oleh 600-an Pengurus dan Kader Inti PKS dalam acara Pembekalan & Konsolidasi Kader Malang Raya. Acara ini digelar sebagai upaya persiapan pengurus PKS se-Malang Raya dalam persiapan pemenangan pemilu 2014.

Hadir dalam acara tersebut Ketua Umum DPW PKS Jawa Timur drh. Hamy Wahjunianto, MM
dan Ketua Bidang Pembinaan Kader ustadz Farid Dhofir, LC, MSi.

Dalam pemaparannya, ustadz Farid Dhofir, LC, MSi. membakar semangat Kader PKS dengan Ruhul Jihad, kisah "Perang Mu'tah' yang terjadi pada zaman Rasulullah, pada 8 H.

Beliau menyampaikan, ada yang tidak lazim dari perang tersebut, yang berbeda dengan peperangan yang lain. Yang tidak lazim dari perang ini adalah, saat Rasul mengangkat komandan perang hingga berjumlah 3 orang.

Suasana Konsolidasi dan Pembekalan Kader
Di depan barisan pasukan kaum Muslimin, Rasulullah berpesan:
"Amirukum Zaidun (Zaid bin Haritsah). Fain qulita Zaidun, amirukum Jakfar (jika Zaid terbunuh: Jakfar bin Abu Thalib). Fain qutila Jakfar, Abdullah bin Rawahah".

Hal ini menandakan peperangan akan berlangsung sangat seru dan ketiga komandan akan menemui syahid sebagai syuhada, serta adanya isyarat nomor urut Komando itu penting bagi peperangan.

Perang Mu'tah terjadi dengan kekuatan yang tidak seimbang, dimana pasukan kaum muslimin yang hanya berjumlah 3.000 orang harus melawan 200.000 pasukan gabungan kaum kafirin.

Pesan Rasulullah kepada barisan tentara Muslimin saat itu:
  1. Ughzwu bismillah (perang dengan nama Alloh dan tidak dengan niatan yang lain)
  2. Fi sabilillah (jangan melanggar perintah dan larangan Allah saat di medan jihad)
  3. Qotala man Kafaroh billah.
Pada saat berangkat menuju medan perang, tidak ada dari tentara kaum Muslimin yg berwajah murung, tetapi semua berseri-seri. Karena Alloh telah janjikan husyanain (2 kebaikan) kepada mereka:
  1. Bila mereka gugur, maka akan dicatat sebagai mati syahid, dan hal ini berarti masuk surga
  2. Bila menang, mendapatkan kejayaan Islam.
Karena hal itulah, maka wajah-wajah pejuang harus senantiasa tetap berseri-seri...

Akan tetapi, di sela-sela pasukan kaum Muslimin ada salah seorang sahabat yang menangis. Ternyata dia adalah Abdullah ibn Rawahah (komandan ke 3). Seorang sahabat bertanya: "Apa yang membuatmu menangis?"

Abdullah ibnu Rawahah menjawab: "Demi Alloh aku menangis bukan karena berat meninggalkan dunia dan bukan pula keluarga tetapi karena ingat ketilka Rasulullah membaca al-Qur'an".

"Dan tidak ada seorang pun dari padamu, melainkan mendatangi neraka itu. Hal itu bagi Tuhanmu adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan". (Q.S. Maryam: 71)

Ayat ini mengisyaratkan tiap manusia pasti akan singgah di neraka. Meski ayat ini tidak layak ditujukan kepada para Sahabat, tetapi karena ketinggian imannya beliau khawatir bila ayat itu berlaku untuk dirinya.

Ketika 3 sahabat gugur di medan perang menemui syahid, Rasulullah tidak menunjuk pengganti komandan, maka tampillah sosok pemuda yang namanya belum pernah disebut dalam sejarah sebelumnya, Tsabit ibn Arqom.

Dia berlari dan berputar2 mengelilingi pasukan kaum Muslimin, seraya berkata: "wahai kaum muslimin kalian harus bermusyawarah". Qoolu (pasukan-kaum Muslimin) berkata: "amirunaa anta". Tsabit ibn Arqom menjawab: Maa ana bifakir (aku tidak sanggup).

Karena kondisi yang genting maka dia akhirnya mengangkat bendera dan memimpin perang sampai akhirnya bendera yang dipegangnya diserahkan kepada Khalid bin Walid dengan strategi perangnya yang jitu: mengubah formasi pasukan yang senantiasa berubah-ubah. pasukan yang berada di depan kemudian ditukar dengan pasukan yang sebelumnya berada pada posisi belakang. Dan pasukan yang ada pada sayap kiri ditukar formasinya dengan pasukan yang sebelumnhya berjaga di sayap kanan. Pasukan kafir memandang seakan2 jumlah pasukan kaum Muslimin bertambah banyak (dengan wajah-wajah baru). Dan Khalid mengikatkan pelepah kurma yang ditarik di belakang kuda hingga debu-debu berterbangan, sehingga ditangkap pasukan kaum kafir seakan bala bantuan pasukan kaum Muslimin telah berdatangan dengan jumlah yg sangat banyak.

Dalam perang Mu'tah tersebut, tercatat 12 Sahabat meneemui Syahid termasuk 3 orang Komandan perang: Zaid bin Haritsah, Jakfar bin Abu Thalib dan Abdullah bin Rawahah.

Dalam hal kekinian (perjuangan dakwah melalui partai politik), pesan ini bermakna adanya tugas mengambil kursi dewan dari mereka-mereka yg tidak setuju dengan dakwah kita.

Adapun hikmah dari peperangan ini adalah:
  1. Saat kita berjihad, termasuk "jihad siyasi" melalui partai politik kita harus siap dalam keadaan bersih dan menatap dengan wajah berseri akan janji kemenangan Alloh.
  2. Bahwa kepemimpinan itu tidak boleh kosong dalam waktu yang lama, dan harus ada partisipasi aktif dari kader ketika melihat celah dan kelemahan
  3. Dalam memenangkan pertarungan politik harus dengan strategi yang cerdas dan jitu.
Subhaanalloh, Allahu akbar...!!!


Posted by: Admin
Share this article :

0 komentar:

Posting Komentar

Kiprah Kader PKS

Arsip lain Kategori ini »

KOLOM OPINI

Arsip lain Kategori ini »

KOLOM INSPIRASI

Arsip lain Kategori ini »

KUMPULAN KULTWEET

Arsip lain Kategori ini »
Published by : PKS Dau ~ Indonesia
Copyright © 2013. PKS Dau ~ Indonesia - All Rights Reserved
Created and Support by A.M.C. Purnama
Proudly powered by Blogger