Home » » Berkisah dari 3 Kecamatan, Bukan Negeri Antah Barantah

Berkisah dari 3 Kecamatan, Bukan Negeri Antah Barantah

Dipublikasikan Oleh PKS Dau pada Rabu, 12 Juni 2013 | 18.11

Oleh : Kader Reffah

"Kubiarkan malam ini rinai hujan menyergap daksa, berharap dapat meluruh segala noda, yang tersengaja ataupun tidak, kubiarkan hembusan dinginnya merasuki tulang, melencangkan persendian yang lama teracak, oleh syahwat dunia. Lalu aku coba susun untaian pujian, lewat tasbih hujan, agar lidah tak lagi kelu, hati tak lagi batu, merapal doa ampunan, khawatir Dia tak berkenan. Hapuskan segala aku". (Tasbih hujan-dhieaje)

Tujuh juni dua ribu tiga belas. Tiba pada suatu masa, ketika sebuah ucapan yang benar benar diyakini dalam nurani dan di lakukan dengan perilaku kolektif. Seperti yang telah dikatakan Ustad Tahmid “kalau memang ikhwah kita di luar negeri berjuang mengunakan senjata, maka saat ini kita berjuang menggunakan bendera, memberitahukan bahwa disini kita masih ada!!”.

Pada saat itu sepanjang jalan masih basah dengan hujan menyisakan selaksa bahagia yang tuna dalam jiwa, seolah olah hujan ingin menuntaskan dahaga pada jiwa-jiwa yang tak henti berharap akan cerita sempurna menjadi bagian dari hidupnya. Kami ber-delapan, enam orang ikhwan dan di dampingi oleh Pak Huda serta Pak yasir berkumpul di kediaman Pak Ali, membicarakan letak point yang akan kita “bombardir” dengan 6 spanduk dan ratusan amunisi yang siap kita lontarkan. Pukul 20.46 waktu setempat kita bersiap untuk berangkat, menggunakan mobil zebra biru, setelah saya lihat STNK mobil, ternyata mobil ini produksi tahun 1986, terbesit di fikiran, sungguh mobil tua dan mungkin telah menjadi saksi bisu perjuangan DPC karangpoloso.  Selang 15 menit kemudian kita pun berangkat menggunakan mobil perjuangan (yah begitulah saya sebut karena memang benar benar mobil “perjuangan”).

Sebelum menuju ke tiga kecamatan bagian timur, rombongan singgah ke kediaman ketua DPC DAU, sama, mengambil amunisi yang siap di lontarkan, kemudian barulah menuju ke tempat kecamatan pertama jakni pujon. Sungguh hal hal yang kita bicarakan dalam kendaraanpun, menyoal tentang ‘perjuangan’ silam, flasback pemilu 2009 dan sebagainya, menambah heroik perjuangan, soundtrack lagu pun terdengar jelas, lagu izzatul islam, Shoutul Harokah, bahkan lagu lagu zaman awal berdiri PK (Partai keadilan: red) menjadi asupan naluri untuk menuju eksistensi.

Tak disadari ‘perjuangan’ pun berhenti sejenak, mobil yang kita tumpangi mengalami kendala, al hasil mobil mogak di daerah stadion Brantas Batu, mesin mengalami ereksi kecil di mesin, asap mengepul dari tempat duduk sopir, di tambah asap yang keluar dari area tengah tempat duduk kami, yang dimana pusat mesin ada disana. Kami dan sekalian amunisi pun turut diturunkan. Asumsi awal mesin terlalu panas maka ikhwan yang mengemudi, menginstruksikan untuk rehat sejenak, dan Pak Yasir langsung menghubungi Pak Ali untuk menayakan kemungkinan terburuk. Kemudian beberapa jam kemudian Pak Ali pun datang mengendarai mobil Panthernya serta menginstruksikan untuk menitipkan mobil Zebra biru ke saudaranya dan kemudian rombongan pun pulang bersama sama menuju kediaman Pak Ali.

Beribu argumen betebaran dalam benak kami, “apakah hanya sampai disisni?”, “apakah kita pulang dan di lanjut aktifitas ke esokan harinya?” dll, namun setelah sampai dalam kediaman Pak Ali dan pada hari itu juga saya merasakan bahwa ayat Alloh pun berlaku, yakni sura Al Anfaal ayat 15-16. Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bertemu dengan orang-orang yang kafir yang sedang menyerangmu, maka janganlah kamu membelakangi mereka (mundur). Barangsiapa yang membelakangi mereka (mundur) di waktu itu, kecuali berbelok untuk (sisat) perang atau hendak menggabungkan diri dengan pasukan yang lain, maka sesungguhnya orang itu kembali dengan membawa kemurkaan dari Allah, dan tempatnya ialah neraka Jahannam. Dan amat buruklah tempat kembalinya..

Terjadi diskusi singkat tatkala mobil panther yang kita kendarai bertolah menuju daerah target, kenapa mobil sampai mogok, kenapa kita harus kembali, kenapa kita tidak membawa tangga, kenapa kita harus kembali ke kediaman pak ali, kita semua meyakini bahwa Alloh telah menggariskan ini semua di lauh mahfudz, ada hikmah di balik itu semua, yang sampai sekarang masih ada tanda tanya besar di benak saya. Hanya kepada Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan

Kecamatan pujon, Pukul 23.30 senandung mars PKS mengiringi kedatangan rombongan di titik pertama, yakni per-tigaan gunung banyak. Tentunya titik ini menjadi untuk mewarnai semuanya. Terpampang gagah foto dari Pak Abdulloh diserangkaikan dengan tulisan tegas bahwa PKS menolak kenaikan harga BBM, kemudian dipadukan dengan peletakan spanduk yang sangat strategis untuk menyambut sepasang mata dari arah batu menuju kecamatan kecil yakni kecamatan pujon. Kembali firman Alloh berlaku bahwa, alloh telah memerintahkan untuk menyampaikan secara terang terangan segala apa yang telah diperintah kan kepadamu, dan berpalinglah dari orang orang yang musrik.

Masih di kecamatan pujon, setelah dari pertigaan gunung banyak, kami bertolak menuju terminal argobisnis,  menempatkan spanduk menghadap ke arah barat yang kemudian sangat memudahkan masyarakat untuk membacanya. Namun ada hal yang menurut saya sangat bangga dengan kader PKS, selagi memasang spanduk, beberapa kader lainya juga membenahi baliho, baliho marketing dari salah satu SMK bi kota Batu yang telah rusak, tidak dapat berdiri dengan kokoh serta menghadap dengan jelas. Sekali lagi, ayat alloh berlaku di terminal argobisnis, yakni surah Al Maidah ayat 2 “...Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya”  

Pukul 00.09 dini hari, rombongan langsung menuju Kecamatan Ngantang, selama perjalanan memang tidak terasa seperti biasanya, melewati hutan, gelapnya jalan dikarenakan tidak  adanya penerangan jalan, ikhwan yang mengendarai mobil pun melaju dengan meliak-luikkan tubuh mobil sesuai dengan liukan sepanjang jalan itu hingga tubuh kita melawan arah kemana mobil itu berbelok. Sehingga timbullah celetuk dari salah seorang ikhwan “wah antum habis nonton fast farius 6 ya, Kok nyetirnya kayak begini ?”, dan ikhwan yang mengemudi hanya menjawab dengan tertawa nyengir.

Dengan lajunya mobil membuat rombongan lekas sampai di pertigaan Selorejo, tanpa banyak kata pun beberapa ikhwan langsung ambil inisiatif mempersiapkan kayu, potongan bambu, memotong tali dan melekatkan stiker di beberapa tiang listrik. Untuk kali ini spanduk hanya ada tulisan dan gambar partai tanpa ada gambar calon legislatif. Peletakan spanduk ke dua di kecamatan ngantang berada di depan kantor PDAM, beberapa ratus meter  ke arah timur dari taman makam pahlawan. Ada beberapa hal yang sangat menggelikan, di sinilah tersirat 1001 alasan kenapa ikhwan ikhwan yang masih muda tidak berani untuk memanjat pohon, ada yang mual, ada yang tidak berani memanjat pohon yang pada saat itu mengenakan baju kepanduan haahaa, dan hasilnya yang memanjat pohon adalah Pak Huda heehee memberikan contoh kongkret bahwa memanjat pohon itu adalah hal yang menyenangkan. Mungkin lain kali perlu diadakan pelatihan khusus untuk trik trik memanjat pohon dan tiang listrik untuk ikhwan dan akhwat *ups heehee.

Pukul 1.30 dini hari, rombongan menuju Kecamatan Kasembon, untuk kali ini mobil melaju standart, tidak sekencang perjalanan dari pujon ke ngantang, pelan tapi pasti. Tidak tahu kenapa, tiba tiba saya selama perjalanan berfikir tentang surah At- Taubah 111, mencoba untuk menelaah kembali sesuai fikiran saya, bahwa alloh itu akan mengganti dengan kerugian harta dan jiwa kaum mukmin dengan syurga. Jika di surah itu  secara redaksional terdapat kata “perang, membunuh dan terbunuh”, namun seingat saya pada buku asbabun nuzul sebuah latar belakang historis turunya ayat ayat alquran terutama surah ini, sebagaimana Rosululloh menjelaskan kepada Abdulloh bin Rawahah bahwa “aku (muhammad) telah mewajibkan terhadap Rabb-ku untuk beribadah kepadaNya, tidak menyekutukanNya, sedangkan kewajiban kewajiban terhadapku adalah agar kalian menjagaku sebagaimana kalian menjaga diri dan harta kalian”. peristiwa tersebut di riwayatkan oleh Ibnu jarir. cukup itu saja, yang nantinya alloh akan mengantikan dengan syurga, dan tak tahu kenappa saya semakin rindu kepada secangkir kopi, baik pekatnya, dan pahitnya.

Ada korelasi konyol dari pikiran saya, antara surah At taubah dengan secangkir kopi, ya itu rasionalisasi saya, seharusnya dalam perjuangan ini, dalam segala hal apapun kita bisa mengambil pelajaran, selagi tadi dari surah at taubah, sekarang dari secangkir kopi pun ada sebuah pelajaran yang penting, yakni sebuah kejujuran, kesederhanaan, pendirian dan prinsip. Bagaimana tidak dengan apapun biji kopi di campur, rasa pahitnya akan tetap ada, tanpa merusak rasa campurannya. Itulah contoh sebuah kejujuran yang sederhana, tanpa dibuat-buat dan mengada-ngada, nah ketika memang kita sudah yakin, se yakin yakinya akan janji Alloh, alloh tidak akan mengingkarinya, karena dengan segenap hati atas ridhoNya kita berbuat dalam perjuangan ini semata mata untuk ibadah kepadaNya, dan dengan cinta yang sederhana, perjuangan ini mengajarkan untuk tidak menyekutukanNya, dan dengan keteguhan prinsip, perjuangan ini mendidik kita untuk tidak menduakan baginda Rasululloh. Subhanalloh.

Tak lama kemudian mobil berhenti di suatu derah yang sepi bernama desa Pait, jam menunjukkan pukul 1.35 dini hari. Bergegas rombongan langsung mempersiapkan segalannya, kali ini kita memasang spanduk untuk calon legislatif yakni Ibu Ina Hidayati. Tidak tanggung tanggung kkita  langsung memasang di depan gerbang masuk desa Pait, terhitung waktu kita memasang hanya beberapa menit saja berbedaa dengan sebelumnya yang terhitung cukup memakan waktu.   Setelah selesai rombongan langsung menuju jantung daerah kasembon. Cukup membingungkan sebetulnyaa, kerena letak strategis untuk memasang spanduk yang ke dua untuk kecamatan terakhir ini sangat minim. Setelah berputar putar beberapa titik, barulah menempatkan spaanduk langsung di jantung perkampungaan yakni di dusun sukosari, berhadapan langsung dengan rumah warga, tempat cukur rambut, dan bengkel las karbit. Cukup memakan waktu lama, dan kemudian pukul 03.15 rombongan langsung menuju ke Malang, semua penumpang dalam keadaan tertidur pulas, kecuali beberapa ikhwan yang menemani pengemudi mengemudikan mobil panther itu.

Berkaca pada Fanatisme Umar Tilmisani

Memang fanatisme memiliki segudang makna bagi pembacanyaa, namun sekali lagi kita tidak perlu untuk melihat konteks ini dari definisinya saja, namun sebuah bukti fanatisme itu buruk dan tidaknya dari sebuah praktiknya.

Pada kesempatan kali ini  saya mengajak untuk menguatkan kembali fanatisme kita untuk senantiasa menjadi api dikala semua jalan telah gelap dan tertutup kabut ke jumudan. Maka syaikh Umar Tilmisanilah yang dalam kondisi ini menjadi tolaak ukur menghadari peliknya langkah perjuangan. Umar Tilmisani dikenal tegas di dalam mahupun di luar penjara. Ia tidak pernah tunduk pada ancaman atau intimidasi. Ia juga dikenal zuhud, iffah (menjaga kehormatan, pent.), fanatisme yang ditujukan  kepada Allah Ta'ala, dan mengharapkan keredhaan-Nya. Syaikh Umar Tilmisani berkata, "Saya tidak pernah takut kepada siapa pun selama hidupku, kecuali kepada Allah Ta'ala.  Tidak ada yang dapat menghalangiku mengucapkan kebenaran yang saya yakini, meskipun orang lain merasa berat dan saya mendapat kesusahan kerananya. Saya katakan apa yang ku yakini dengan tenang, mantap, dan sopan, agar tidak menyakiti pendengar atau melukai perasaannya. Saya juga berusaha menjauhi katakata yang mungkin tidak disukai lawan bicaraku. Dengan cara seperti itu, saya mendapatkan ketenangan jiwa. Andai cara ini tidak dapat merekrut banyak kawan, maka berdiam diri menjagaku dari kejahatan lawan."[]

dari Abu Hurairah, iaitu Abdur Rahman bin Shakhr r.a., katanya: Rasulullah s.a.w. bersabda: "Sesungguhnya Allah Ta'ala itu tidak melihat kepada tubuh-tubuhmu, tidak pula kepada bentuk rupamu, tetapi Dia melihat kepada hati-hatimu sekalian." (Riwayat Muslim)



*****
Posted by: Admin
Share this article :

0 komentar:

Posting Komentar

Kiprah Kader PKS

Arsip lain Kategori ini »

KOLOM OPINI

Arsip lain Kategori ini »

KOLOM INSPIRASI

Arsip lain Kategori ini »

KUMPULAN KULTWEET

Arsip lain Kategori ini »
Published by : PKS Dau ~ Indonesia
Copyright © 2013. PKS Dau ~ Indonesia - All Rights Reserved
Created and Support by A.M.C. Purnama
Proudly powered by Blogger